Penyiaran (Broadcasting)

Manusia sangat memerlukan media untuk menyampaikan pesan, ide, gagasan kepada orang lain sebagai sarana komunikasi diantara mereka. Komunikator sebagai subjek pertama yang hendak menyampaikan pesan kepada objek (komunikan), dan yang saya maksud adalah kepada khayalak banyak atau massa musti memerlukan media sebagai alat transmisi supaya rangkaian pesan yang disampaikan dapat diterima oleh komunikan dan sehingga apa yang diharapkan oleh komunikator dapat tercapai sesuai harapan.

Siaran atau broadcast memiliki andil cukup tinggi dalam transmisi ini sehingga banyak komunikator; lembaga komunikator, menggunakan jasa media penyiaran ini, dimana komunikator sekaligus penggagas ide mengemas pesan kemudian dikirimkan baik secara verbal maupun nonverbal melalui saluran atau sarana komunikasi yang memungkinkan pesan itu mampu menjangkau khalayak luas dan banyak.

Adapun penyiaran (broadcasting) sebagai kegiatan pemancarluasan siaran melalui sarana pemancaraan atau sarana transmisi di darat, di laut, dan di antariksa dengan menggunakan spectrum frekwensi radio (siaran radio) yang berbentuk gelombang elektromagnetik yang merambat melalui udara, kabel dan atau media lainnya untuk dapat diterima secara serentak dan bersamaan oleh masyarakat dengan perangkat penerima siaran, adalah proses yang pada akhirnya akan membentuk pendapat publik dari pesan yang disampaikan.

  1. A.    Definisi Penyiaran

Dari segi bahasa(etimologi) penyiaran berarti proses, cara, dan perbuatan menyiarkan. Sedangkan arti istilah (terminologi) penyiaran menurut J.B. Wahyudi (1996) adalah:

  • Proses komunikasi suatu titik ke audiens, yaitu suatu proses pengiriman informasi dari seseorang atau produser (profesi) kepada masyarakat melalui proses pemancaran elektromagnetik atau gelombang yang lebih tinggi.
  • Penyiaran yang merupakan padanan kata broadcasting yaitu semua kegiatan yang memungkinkan adanya siaran radio dan televisi yang meliputi segi ideal, perangkat keras dan lunak yang menggunakan sarana pemancaran atau transmisi, baik di darat maupun di antariksa dengan menggunakan gelombang elektromagnetik atau gelombang yang lebih tinggi untuk dipancarkanluaskan dan dapat diterima oleh khalayak melalui pesawat penerima radio atau televisi dengan atau tanpa alat bantu.

Menurut Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 mengartikan penyiaran atau broadcasting sebagai kegiatan pemancarluasan siaran melalui sarana pemancaran dan atau sarana transmisi di darat, di laut, dan di antariksa dengan menggunakan spectrum frekwensi radio (sinyal radio) yang berbentuk gelombang elektromagnetik yang merambat melalui udara, kabel dan atau media lainnya yang dapat diterima secara serentak dan bersamaan oleh masyarakat dengan peraangkat penerima  siaran.

Dengan ini penulis dapat mengartikan bahwa penyiaran adalah kegiatan atau proses transmisi informasi atau pesan yang berisikan ide, gagasan, pemikiran, dari satu titik; seseorang, produser, komunikator kepada audiens; khalayak masyarakat banyak melalui sarana pemancaran atau transmisi baik melalui darat, laut maupun antariksa dengan menggunakan spectrum frekwensi radio (sinyal radio) yang berbentuk gelombang elektromagnetik yang dipancarluaskan dan dapat diterima melalui pesawat penerima radio atau televisi.

  1. B.     Media Penyiaran

     Dalam kata pengantarnya, Ashadi Siregar memaksudkan media penyiaran (broadcasting) adalah media televisi dan radio, yaitu media komunikasi massa yang menggunakan spectrum elektronik (frekuensi) dalam menyampaikan informasi dalam bentuk gabungan gambar dan suara atau suara saja. Dunia media penyiaran mempunyai posisi yang sangat signifikan dalam kehidupan masyarakat kita sekarang.[1]

Karena kedua media ini merupakan komunikasi massa, alangkah baiknya apabila kita menguak apa itu komunikasi massa secara global ataupun terperinci sebagai landasan untuk kita mengetahui objek bahasan kita pada kali ini. Yang dimaksudkan komunikasi massa di sini ialah komunikasi dengan menggunakan media massa modern, yang meliputi surat kabar yang mempunyai sirkulasi yang luas, radio dan televisi yang siarannya ditujukan kepada umum, dan film yang dipertunjukkan di gedung-gedung bioskop.[2]  M. Tata Taufik dalam bukunya menyebutkan bahwa komunikasi massa adalah komunikasi yang diarahkan kepada khalayak luas yang tidak terbatas.[3] Dan juga sebagaimana menurut Charles Atkin yang dikutip oleh M. Tata Taufik mendenifisikan komunikasi massa sebagai proses komunikasi bermedia antara sumber institusional dengan audiens yang beragam dan menyebar luas melalui alat mekanik.[4]

Dari berbagai kesimpulan di atas, media sangat ditonjolkan dalam proses komunikasi dari sumber ke audiens yang dapat kita sebut sebagai media komunikasi. Dalam teori komunikasi, media berfungsi sebagai penjaga gerbang (gate keeper) yaitu menerima informasi dari suatu sumber dan merelai informasi tersebut kepada penerima.[5] Dalam komunikasi, yang ditandai oleh kehadiran medium massa seperti surat kabar, televisi, fungsi penjaga gerbang itu selalu ada. Medium, sesuai dengan hakikatnya, bertindak sebagai penjaga gerbang antara sumber (sebagai contoh; kepala peristiwa berita, seorang pejabat pemerintah membuat pernyataan) dan penerima (kita- para konsumen informasi melalui perantara).[6] Dalam pengertian komunikasi bermedia (mediated communication) inilah media massa menjalankan fungsi C (penjaga gerbang) dalam model komunikasi Westley dan MacLean (1975) itu.[7]

  1. C.    Macam Media Penyiaran
  2. 1.      Radio

Radio siaran (broadcasting) sering disebut sebagai institusi kemasyarakatan seperti media massa pada umumnya. Institusi semacam ini dapat dilihat Dari keberadaannya sebagai suatu organisasi yang menjalankan fungsi penyiaran informasi, baik secara tunggal maupun melalui system jaringan (network) dengan satu pusat yang mengendalikan penyiaran informasi, fungsi ini dijalankan untuk memnuhi khalayaknya. Sebagai unsur dari proses komunikasi, dalam hal ini sebagai media massa, radio siaran mempunyai ciri dan sifat yang berbeda dengan media massa lainnya. Ini berbeda dengan surat kabar yang merupakan media massa cetak, juga dengan film yang bersifat mekanik optik. Dengan televisi, kalaupun ada persamaannya dalam sifatnya yang elektronik, terdapat perbedaan, yakni radio sifatnya audial, televisi audiovisual.[8] Radio telah menjalani proses perkembangan yang cukup lama dari penemuan radio itu sendiri menuju perkembangan radio sehingga menjadi media komunikasi massa pada saat ini.  Apabila ditilik dari sejarahnya, Radio bermula ditemukan oleh James Maxwell seorang ahli teori ilmu alam berkembangsaan inggris yang mendapat julukan “scientific father of wireless” yang menemukan gelombang elektro magnetis yaitu gelombang yang digunakan radio dan televisi. Adanya gelombang elektro magnetis telah dibuktikan oleh Heinrich Hertz dengan jalan experimen dan juga dia dapat membuktikan bahwa dengan suatu permukaan dari logam yang cocok, gelombang elektro magnetis itu bisa direfleksikan kepada suatu cahaya. Ini terjadi pada tahun 1884. Kemudian Guglemo Marconi sebagai penemu telegrap tanpa kawat mengembangkan penemuan Hertz yang kemudian menerima tanda-tanda tanpa kawat dalam jarak 1 mil yang kemudian menjadi 8 mil. Kemudian Dr. Lee De Forest mengembangkan penemuan Marconi itu pada tahun 1906 dengan memperkenalkan lampu vakumnya (vacuum tube), yang memungkinkan suara dapat disiarkan dan adalah Dr. Lee De Forest yang mula-mula menyiarkan berita radio dan dianggap sebagai pelopor radio “the father of radio” pada tahun 1916, meskipun yang mula-mula memperkenalkan mengenai radio siaran (broadcasting) adalah David Sarnoff pada tahun 1915.[9]

Oleh sebab radio berpotensial menyampaikan pesan secara baik sehingga dapat diterima oleh komunikan, sehingga pada saat ini  kita temukan banyak radio penyiaran, baik swasta maupun yang dikelola oleh pemerintah. Daya ikat untuk dapat melancarkan pesan ini penting, artinya dalam proses komunikasi, terutama melalui media massa, disebabkan sifatnya yang satu arah ( one way traffic communication), yang mana Barnlund (1968) melukiskan bentuk komunikasi satu arah sebagai suatu situasi di mana para penerima “diharapkam mendengarkan dan tidak menyahut.[10]Komunikasi hanya dari komunikator kepada komunikan. Namun potensi  dan kenyataan bergantung pada relevensi programa, kualitas yang baik dan kreatif, kompetensi operasional, reabilitas teknis dan konsistensi sinyal yang diterima.    

  1. 2.        Televisi

Televisi adalah system elektronik untuk memancarkan gambar bergerak moving image dan suara kepada receiver. Sejak tahun 1930 mulai penyiaran TV menemani radio, dan secara aktif siaran TV dimulai 1947. [11] Media televisi memiliki posisi istimewa dalam masyarakat. Keistimewaan itu dapat dilihat dari karakteristikannya yang memberikan kemudahan maksimal kepada khayalaknya. Dalam artikel Television as new religion, yang mana Gerbner dan Conolly menggambarkan salah satunya sebagai berikut: Television consumes more time and more attention of more people than other media and leisure activities combined. In the average American home, the television set is on for six and one- quarter hours a day.[12] Yang kira-kira penulis artikan sebagai berikut: “Televisi  menyita lebih banyak waktu dan perhatian dari lebih banyak orang dibandingkan dengan media lain dan kegiatan diwaktu luang yang digabungkan. Rata-rata diperumahan Amerika, televisi dikonsumsi diantara enam jam dan satu seperempat jam perhari. Ini adalah gambaran betapa televisi mengisi kehidupan masyarakat, ini dapat dipahami mengingat untuk memperolehnya konsumen tidak perlu keluar rumah, tidak memerlukan kemampuan baca yang tinggi dan mencapai khalayak yang heterogen sekaligus. Sehingga banyak orang menganggap bahwa media televisi telah menggantikan peran sumber-sumber pendidikan konvensional dan tradisional. Orangtua, pemuka agama, dan guru telah kehilangan peranannya secara drastis yang menurut penulis ini terjadi hanya di beberapa wilayah saja, termasuk amerika. Sehingga tepat apabila televisi mendapatkan julukan sebagai surrogate parent, substitute teacher.

Dari beberapa pandangan yang cenderung menilai media ini sebagai penggeser nilai pendidikan, sosial maupun pribadi, ini mengisyaratkan bahwa televisi memang memiliki nilai negative yang apabila tidak dibenahi maka akan menghilangkan nilai potensialnya sebagai institusi sosial. Menurut hemat penulis, masalah ini hanya ditekankan dalam format penyiaran (programming) yang tidak memberikan unsure buruk dalam muatannya dan lebih mementingkan nilai positive terhadap konsumen karena pengaruhnya yang begitu besar.

  1. D.    Dampak Dari Media Penyiaran

Sebagaimana yang sering kita dengar bahwa media siaran memiliki pengaruh yang besar di dalam kehidupan sosial, politik, ekonomi dan budaya. Begitu besarnya pengaruh media tersebut sampai dinyatakan bahwa media adalah pilar keempat demokratisasi. Melihat besarnya pengaruh tersebut, maka pantaslah jika pemilik media menyadari akan arti pentingnya media bagi pemberdayaan masyarakat.

Media bisa mendorong agar individu atau masyarakat tergerak untuk melakukan sesuatu bagi diri dan lainnya. Mungkin kita masih ingat gerakan uang recehan untuk membantu Prita di dalam kasusnya di pengadilan dan gerakan save Rohingnya menggalang dukungan untuk membantu suku Rohingnya di Myanmar. Melalui media informasi, maka kemudian terjadilah gerakan membantu Prita untuk membayar denda pengadilan dan juga bantuan untuk etnis Rohingnya. Bagaimanapun media penyiaran adalah bagian dari media massa yang dipandang mempunyai kedudukan strategis dalam masyarakat. Kita dapat mengatakan bahwa media penyiaran memiliki dampak yang positive dan negative terhadap masyarakat. Ini sesuai dengan konsep pengaruh media massa yang terdiri atas 3 varian, pertama: menimbulkan peniruan langsung (copy-cut), kedua: menyebabkan ketumpulan terhadapa norma (desensitisation), dan ketiga: terbebas dari tekanan psikis (catharsis) bagi khayalak media massa. Dampak positive dan negative di media massa, ini kembali lagi terhadap esensi format penyiaran dalam unsure muatannya, apabila memberikan nilai baik; nilai pendidikan, budaya, sosial,dll, maka dampaknya pun akan baik pula bagi masyarakat, begitupun sebaliknya.

 

KESIMPULAN

Penyiaran atau broadcasting merupakan kegiatan proses transmisi pesan atau informasi dari seseorang atau produser (komunikator) kepada masyarakat melalui proses pemancaran gelombang elektromagnetik atau gelombang yang lebih tinggi untuk dipancarluaskan dan dapat diterima oleh penerima (komunikan) melalui pesawat penerima radi atau televisi. Radio dan televisi adalah apa yang dimaksudkan oleh Ashadi Siregar sebagai media penyiaran, yaitu media komunikasi massa yang menggunakan spectrum elektronik dalam menyampaikan informasi.

Sebagai media massa, radio dan televisi memliki peran sebagai gate keeper  yang tentunya peran keduanya dipakai dalam komunikasi bermedia sebagai transmitter informasi kepada masyarakat. Sebagai finalnya dampak baik buruknya media ini sebagaian besar bergantung pada format muatan yang akan di sampaikan kepada masyarakat dan selebihnya bergantung pada sikap komunikan dalam mengkonsumsinya.

 

DAFTAR PUSTAKA :

  • Siregar, Ashadi, Menyingkap Media Penyiaran: Membaca Televisi Melihat Radio, LP3Y, Yogyakarta, 2001.
  • Taufik, M Tata , Etika Komunikasi Islam: Kritik tehadap Konsep Komunikasi Barat,  PENERBIT SAHIFA, Bandung, 2008.
  • Stokkink, Theo, Penyiar Radio Profesional terjemahan dari The Professional Radio Presenter, PENERBIT KANISIUS, Yogyakarta, 1997.
  •  Onong, Uchjana Effendy, Radio Siaran teori dan praktek, PENERBIT MANDAR MAJU, Bandung, 1990.
  • Fisher, B. Aubrey, Teori-Teori Komunikasi, REMADJA KARYA CV, Bandung, 1986.
  • http://nursyam.sunan-ampel.ac.id/?p=2071
  • http://sugengrusmiwari.blogspot.com/2011/09/penyiaran-broadcasting.html

 


[1] Ashadi Siregar, Menyingkap Media Penyiaran Membaca Televisi Melihat Radio, LP3Y, Yogyakarta, 2001, hal. Vi.

[2] Onong Uchjana Effendy, Radio Siaran Teori dan Praktek, cv. Mandar Maju, Bandung, 1990, hal. 11.

[3] M. Tata Taufik, Etika Komunikasi Islam kritik terhadap Konsep Komunikasi Barat, SAHIFA, Bandung, hal. 47.

[4] M. Tata Taufik, Etika………………h. 47.

[5] B. Aubrey Fisher, Teori-Teori Komunikasi terjemahan dari judul asli: Perspective On Human Communication oleh Soejono Trimo, CV Remaja Karya, Bandung, 1978, hal.168.

[6] B. Aubrey Fisher, Teori…………hal. 172.

[7] Westley dan MacLean (1957) merumuskan model komunikasi massa dan menambahkan fungsi penjaga gerbang (C ) kepada fungsi sumber (A) dan penerima (B), mereka menduga bahwa peran penjaga gerbang hanya dapat ada selama C menyampaikan pesan yang sesuai dengan atau diinginkan oleh penerima (B). B.Aubrey Fisher, Teori…………..hal. 169.

[8] Onong Uchjana Effendy, Radio………………, hal.18.

[9] Onong Uchjana Effendy, Teori………….,hal. 21-23.

[10] B.Aubrey Fisher, Teori…………..hal. 174.

[11] M. Tata Taufik, Etika………., hal. 75.

[12] Ashadi Siregar, Menyingkap……….., hal. 1.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s