Dakwah Sebagai Pembangunan Yang Integral

                                                                                           BAB I

PENDAHULUAN

            Ditinjau dari berbagai persepsi, pada intinya dakwah adalah segala kegiatan dan aktivitas mengajak orang untuk berubah dari situasi yang mengandung nilai bukan Islami kepada nilai yang Islami. Aktivitas dan kegiatan tersebut dilakukan sebagai wujud perilaku keIslaman muslim yang melibatkan unsur da’i, pesan, media, metode, dan respon. Disini, ditemukan dimensi perubahan dan pembangunan yang terarah dan tujuan yang jelas yaitu pembangunan perilaku yang diawali dengan disampaikannya pesan Islam kemudian dilanjutkan dengan pemahaman terhadap pesan itu dan pelaksanaan pesan yang disampaikan dalam aksi kehidupan sebagai tahapan terakhir.

            Pembangunan (development) berarti upaya untuk berubah, dan apabila dikaitkan dengan pembangunan sosial dapat kita sebut sebagai social development yaitu processes of change in societies. Nilai dakwah dapat memberi dampak bagi pembangunan sosial, karena sasarannya pun penggerak sosial itu sendiri. Artinya dakwah adalah pembangunan yang integral, secara utuh dan menyeluruh terhadap kehidupan bukannya hanya nilai individual saja melainkan berkenaan dengan aspek-aspek kehidupan seluruhnya dan pembangunan merupakan bagian integral dari dakwah Islamiyah.

            Dengan berbagai perangkat yang ada, selayaknya dimaksimalkan penggunaannya supaya pembangunan melalui dakwah ini dapat menghasilkan mad’u yang “ihsan” yang dapat melanjutkan estapet kegiatan dakwah untuk generasi penerus.  Dan perlu disadari bahwa dakwah adalah salah satu gerakan pembangunan, karena esensinya adalah upaya untuk mengajak dan menyeru untukmerubah dari hal yang tidak baik menjadi baik, supaya kelak menjadi insan yang mampu mengemban amanat fitri yaitu khaliifatullahi fi al-ardhi.

Pokok Bahasan:

  • Pengertian Dakwah.
  • Pengertian singkat tentang pembangunan.
  • Penjabaran Dakwah sebagai pembangunan yang integral.

BAB II

PEMBAHASAN

1.      Arti dan Dimensi Dakwah

Dakwah secara bahasa berasal dari kata da’a, yad’u, da’watan, yang berarti ajakan, seruan, undangan dan panggilan. Sedangkan secara istilah berarti menyeru untuk mengikuti sesuatu dengan cara dan tujuan tertentu. Sedangkan Aly Mahfudz mengartikan dakwah sebagai upaya memotivasi manusia untuk berbuat kebaikan dan petunjuk, menyuruh pada yang ma’ruf dan mencegah pada yang mungkar, untuk memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat.[1]

Dalam rumusan lain, Dakwah diartikan sebagai internalisasi, transmisi, difusi, transformasi, dan aktualisasipenghambaan kepada Allah SWT yang berkaitan dengan sesama manusia yang melibatkan da’i, maudhu, uslub, wasilah, dan mad’u dalam mencapai tujuan tertentu. Hal itu senada dengan Q.S. Al-Maidah : 67, An-Nahl: 44, 125; Al-Ahzab: 45, 46; Al-Jumu;ah: 2.

Dengan demikian, pengertian dakwah nampak luas dengan berbagai persepsi, sehingga dapat memberikan kedalaman dimensi, yang dapat memberikan gambaran kepada kajian dakwah selanjutnya. Dalam dakwah terdapat dua dimensi besar, pertama, mencakup penyampaian pesan kebenaran, yaitu dimensi kerisalahan (bi ahsan al-qawl), serta kedua, mencakup pengaplikasian nilai kebenaran yang merupakan dimensi kerahmatan (bi ahsan al amal)[2]

Dimensi kerisalahan (bi ahsan al-qawl) merupakan tuntutan dari Q.S. Al-Maidah 67 dan Ali Imran 104, dengan memerankan tugas Rasul untuk menyeru agar manusia lebih mengetahui, memahami, menghayatu dan mengamalkan Islam sebagai pandangan hidupnya. Dengan pemahaman, penghayatan, dan pengamalan yang demikian, maka Dakwah sedang mengarah kepada perubahan perilaku manusia pada tingkat individu maupun kelompok ke arah yang makin Islami, yaitu gemar menunaikan Islam. Dalam hal ini terdapat kegiatan komunikasi (pemahaman, penghayatan, dan pengamalan), dengan kata lain Dakwah kerisalahan dalam prakteknya merupakan proses mengkomunikasikan dan menginternalisasikan nilai-niai Islam. Dalam hal ini, (1) Islam merupakan sumber nilai, dan (2) Dakwah sebagai proses alih nilai. Dalam dimensi kerisalahan, terdapat dua bentuk turunan, yaitu bentuk Irsyad dan bentuk Tabligh. Kedua bentuk tersebut merupakan penjabaran dari dimensi kerisalahan. 

Irsyad ialah penyebarluasan ajaran Islam yang sangat spesifik di kalangan sasaran tertentu. Ia menampilkan hubungan personal antara pembimbing dengan terbimbing. Irsyad memilikimakna internalisasi, yaitu proses penaklukan ilham taqwa terhadap ilham fujur, Irsyad juga bermakna transmisi, yaitu proses memberitahukan dan membimbing terhadap individu, dua orang, tiga orang atau kelompok kecil atau memberikansolusi atas permasalahan kejiwaan yang dihadapi (istisyfa).  Adapun Tabligh merupakan suatu penyebarluasan ajaran Islam yang memiliki ciri-ciri tertentu. Ia bersifat insidental, oral, massal, seremonial, bahkan kolosal. Tabligh juga bermakna difusi, yaitu proses penyebarluasan ajaran Islam dengan bahasa lisan dan tulisan melalui bermacam-macam media massa kepada orang banyak, baik secara serentak maupun tenggang waktu, tidak bertatap muka dan tidak pula bersifat monolog. Target kegiatan ini adalah mengenalkan Islam.

            Dimensi dakwah yang kedua adalah dimensi kerahmatan (bi ahsan amal). Ia mengacu kepada firman Allah, Q.S. Al-Anbiya: 107. Dakwah kerahmatan ini, merupakan upaya mengaktualisasikan Islam sabagai rahmat (jalan hidup yang menyejahterakan, membahagiakan dan sebagainya) dalam kehidupan manusia. Dengan begitu, kalau dalam dimensi kerisalahan, dakwah lebih cocok sebagai “ mengenalkan Islam” maka dalam kerahmatan ini, Dakwah merupakan upaya mewujudkan Islam dalam kehidupan. Upaya penjabaran dan pembuktian nilai-nilai Islam normatif yang valid terus dilakukan sehingga benar-benar menjadi nilai kehidupan dan diterapkan dalam kehidupan nyata. Untuk perwujudan itu ada dua bentuk dakwah lainnya, yaitu Tadbir dan Tathwir. Tadbir ialah sosialisasi ajaran Islam kepada mad’u dengan mengoptimalkan fungsi lembaga atau organisasi dakwah formal maupun nonformal, serta mencetak da’i profesional yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Sedangkan Tathwir ialah sosialisasi ajaran Islam kepada masyarakat mad’u untuk mempertinggi derajat kesalehan perilaku individu dan kelompok, sehingga dapat memecahkan masalah yang ada di masyarakat.

 

 

 

 

2.      Pembangunan Integral

Pembangunan tidak dapat dibatasi semata-mata pada pertumbuhan ekonomi. Agar menjadi otentik, pembangunan haruslah lengkap, integral. Maksudnya, pembangunan haruslah memajukan kebaikan setiap pribadi manusia dan manusia secara keseluruhan.[3] Ini berarti bahwa pembangunan diri individual adalah pembangunan yang primordial, yang diutamakan lebih dulu sehingga hasil dari pembentukan mental dari hasil pembangunan itu dapat memberikan kontribusi yang ideal dan baik sesuai harapan, yaitu menjadi penggerak segala aspek kehidupan yang integral, menyeluruh ke segala bidang yang akan menyokong tata kehidupan idaman.

Dakwah dengan berbagai bentuknya yang berupaya untuk menginternalisasi, transmisi, difusi, dan pengamalan nilai-nilai normatif Islam, tentunya memiliki target akhir sebagai tujuan dari kegiatannya. Yang pada akhirnya mampu mencetak insan yang baik dan menebar kebaikan. Dan pembangunan adalah konsekuensi logis dari perjalanan itu.

Sebagaimana strategi dakwah yang dilakukan di Negara, baik di masa lalu dan kini, dakwah perlu dilakukan secara komprehensif (Syumuliyatul Dakwah). Ciri khas dari dakwah yang komprehensif adalah universal, integral dan partisipasi total. Universal terkait dengan Berbasis nilai-nilai Islam dengan konteks Kekinian dan Kedisinian. Integral terkait dengan isu strategis dalam  Ekonomi, Sosial-Budaya; Masyarakat Madani (Politik)-Agriculture-driven Industrialization (Ekonomi)-Keteladanan dalam membangun budaya tinggi (Sosbud) serta penekanan pada tekad kuat untuk membangun institusi-institusi negara secara hakiki. Partisipasi Total terkait dengan melibatkan negara, pengusaha, masyarakat dan akademisi.[4]

Menilik kepada hal di atas, mari kita ambil contoh dari isu pembangunan Masyarakat Madani (politik). Berkaitan dengan hal ini, Islam menyuruh untuk memecahkan masalah dengan mengadakan  musyawarah juga dengan hal pengambilan keputusan (Ali-Imran: 159, As-syura: 38). Ini berarti bahwa Islam dengan nilai normatifnya mengajarkan manusia untuk membangun tatanan masyarakat dengan adil, yaitu dengan mengadakan musyawarah di setiap pemecahan masalah atau dalam hal apapun. Nilai normatif ini tidak akan sampai kepada masyarakat kecuali dengan dakwah, sehingga dakwah itu sendiri merupakan upaya pembangunan Masyarakat  yang berpolitik dengan baik sesuai tuntunan. Rasululah SAW sebagai uswah hasanah pun pernah memberikan teladan tentang  hal itu, Abu Hurairah ra. berkata, “Tidak ada seorang pun yang aku lihat paling banyak melakukan musyarawah melebihi Rasulullah saw. terhadap Sahabatnya.” (HR al-Baihaqi).

Dalam contoh lain, al-qur’an memberikan konsep tentang ekonomi bagi manusia. Hal itu disebutkan di dalam surat Al-Qoshos: 77 yang berbunyi: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” Secara umum, bisa dibilang bahwa ekonomi adalah sebuah bidang kajian tentang pengurusan sumber daya material individu, masyarakat, dan negara untuk meningkatkan kesejahteraan hidup manusia. Karena ekonomi merupakan ilmu tentang perilaku dan tindakan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya yang bervariasi dan berkembang dengan sumber daya yang ada melalui pilihan-pilihan kegiatan produksi, konsumsi dan atau distribusi.

Mengacu kepada teori ekonomi yang dicetuskan Abraham Maslow  yang berbunyi: Ekonomi adalah salah satu bidang pengkajian yang mencoba menyelesaikan masalah keperluan asas kehidupan manusia melalui penggemblengan segala sumber ekonomi yang ada dengan berasaskan prinsip serta teori tertentu dalam suatu sistem ekonomi yang dianggap efektif dan efisien. Kita boleh mengacu kepada teori yang dikemukakan, akan tetapi kita harus mengedepankan konsep Al-Qur’an tentang hal ini yang disebutkan di dalam Al-Qoshos: 77: 1.  Untuk kebahagiaan hidup di akhirat.  Pada awal bunyi ayat “Hendaklah kamu berusaha di dalam sesuatu yang Alloh mendatangkan kebahagiaan mu di akhirat“. 2.  Untuk memperjuangkan nasib di dunia.  Rangkaian ayat di atas: “Dan janganlah lupa akan nasibmu di dunia’: Bahwa pere­konomian yang dikelolanya adalah untuk menopang kehidupan sehari-hari diri dan kelu­arganya. Kita bertanggung jawab terhadap kebutuhan hidup anggota keluarga, sehingga mencari rizqi yang halal juga merupakan ibadah. 3.  Untuk berbuat baik kepada masyarakat. Lanjutan dari surat Al-Qoshosh ayat 77 berbunyi : “Dan berbuat baiklah sebagai­mana Alloh berbuat baik kepadamu”. Konsep ekonomi ini tidak mengajarkan agar kita menjadi kaya sendiri, sukses sendiri, monopoli, tanpa mempedulikan orang lain. Ayat tersebut mengajarkan, bila nanti sudah mencapai kesejahteraan maka gandenglah orang-orang papa untuk ikut serta merasakan kesejahteraan itu. Bagilah rizki, ilmu, dan pengalaman kita pada orang-orang yang membutuhkan. 4. Untuk mencegah kerusakan di bumi. Lanjutan ayat berbunyi : “Dan jangan­lah kamu berbuat kerusakan di bumi’:

Dan begitulah kiranya dakwah berada sebagai sebuh gerakan terhadap perubahan dan pembangunan. Dakwah berdiri tidak saja untuk fokus terhadap pembentukan pribadi seseorang, melainkan lebih dari itu; membangun tatanan hidup yang baik beserta aspek-aspek penunjangnya; pembangunan ekonomi, politik, sosial budaya yang harmoni sesuai ajarannya yang rahmatan lil’alamin,  mencegah perbuatan yang bersifat destruktif dan material-ateistik.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa dakwah berdiri sebagai gerakan pembangunan yang integral; menyeluruh ke berbagai aspek kehidupan, tidak saja focus terhadap pembentukan pribadi seseorang. Itu karena apa yang disampaikan adalah pesan Islam, Islam menyuruh terhadap kebaikan. Di era kemajuan seperti saat ini, dakwah isalimiyah sangatlah dibutuhkan eksistensinya, menegakan hukum Islam di dalam masa kapanpun sesuai dengan  Salah satu adagium yang paling terkenal dalam hukum Islam adalah al-Islamu shalihun li kulli zaman wa makan (Islam senantiasa sesuai perkembangan zaman). Itu merupakan salah satu bukti yang sering ditampilkan untuk menjelaskan tentang fleksibilitas hukum Islam.

Demi terlaksananya pembangunan yang integral, diharuskan mampu memahami kaidah-kaidah berbagai ilmu kauniyah sehingga dakwah dalam geraknya dapat selaras dengan apa yang akan dibangun. Berkat dakwah yang membangun itu, diharapkan akan member pengaruh yang instruktif bagi pembangunan kehidupan yang integral dan universal.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA:

·         Aep Kusnawan dkk, Dimensi Ilmu Dakwah, Tinjauan Dakwah Dari Aspek Ontologi, Epistemologi, Aksiologi, Hingga Paradigma Pengembangan Profesionalisme, Widya Padjadjaran, Bandung, 2009.

·         http://rudher.wordpress.com/2008/10/23/pembangunan-integral/

·         http://ridwansyahyusufachmad.com/2012/01/22/dakwah-siyasi-dan-perputaran-peradaban/

·         http://www.dzikirpengobatanqolbu.com/konsep-ekonomi-menurut-al-qur-an/

 


[1] Aep Kusnawan , Dimensi Ilmu Dakwah, Dakwah dan kajiannya, Widya Padjadjaran, Bandung, 2009, hal.14.

[2] Aep Kusnawan, Dimensi…… hal.16

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s