Maa Tantiquun

Tantiqun

          Begitu banyak orang yang berani bertaruh demi rezeki. Sebagian menyikapinya dengan tenang lantaran percaya bahwa rezeki datang tanpa salah alamat. Yang lainnya begitu khawatir karena melihat jalan menujunya begitu sempit, tidak meyakinkan dan putus. Ada juga yang tetap tenang dan yakin dibarengi dengan usaha prima tanpa ada keraguan sedikitpun. Di mana pun ia bicara, ia yakin bahwa apa yang dibicarakannya akan terjadi, yakin rezeki nya akan tiba dan pada waktunya akan dimiliki juga. Nah, tipe terakhir ini yang menakjubkan. Tapi, seberapa banyak kah orang seperti itu?

      Coba refleksikan pada diri sendiri dahulu. Tenang, yakin dan usaha maksimal. Sebaliknya gelisah, ragu dan topang dagu. Bisakah ketiga unsur itu tertanam dalam diri kita selama menjemput rezeki? Mampukah menahan emosi tatkala finansial tidak meningkat juga. Masih tetap yakin atau ragu kah ketika pada kenyataannya peluang mendapatkan rezeki belum terbuka? Namun di sisi lain kita disuguhkan janji-janji, jaminan-jaminan yang tertulis di ayat-ayat pencipta?

          Mengapa tidak yakin saja dengan Penjamin rezeki? Sebagaimana kebanyakan orang yakin dengan apa yang dikatakannya. Kalau dalam Al-Quran bahasanya “mitsla maa annakum tantiquun?” Saya sendiri ketika menulis ini begitu yakin dengan apa yang saya tulis dengan harapan menjadi doa supaya pada kehidupan nyata pun dapat melakukan demikian.

           Saya merasa diberi anugerah berupa kemampuan untuk bicara di depan publik, meski belum beigtu mahir. Pemberian ini amat begitu sayan guntuk disia-siakan. Suatu hari selepas selesai berbicara di depan audiens, salah seorang teman menghampiri saya dan berkata bahwa saya memiliki kemampuan yang tidak ia miliki, yaitu mahir berbicara di muka publik. Lantas saya tertegun mendengar komentarnya. Ketika saya amati ternyata dia seorang yang mahir kaligrafi. Dia di tangan dan saya di mulut. Tapi hal ini juga yang memicu saya untuk mengembangkan bakat lebih dalam lagi.

       Begitulah kiranya potensi ‘mulut’ yang amat kentara; bisa turut meyakinkan. Jadi baiknya kita yakin dengan apa yang kita bicarakan supaya selaras, dan juga ikut meyakinkan orang lain sebagai dorongan moril antar sesama. Alangkah baiknya lagi jika kita yakin dengan rezeki yang pasti milik kita, baik melalui ‘mulut’ maupun hati.

            Bagaimana kalau sejenak kita merenungkan perkataan ulama:

  من شك في الرزق شك في الخالق

  علمت أن رزقي لا يأخذه غيري فاطمئن قلبي  (حسن البصري)

  أنت لا تعلم عنوان الرزق والرزق يعلم عنوانك  ( متولي الشعروي)

 

  • Demikian juga tulisan ini dimaksudkan untuk meyakinkan penulisnya sendiri.

 

Selasa, 10 Mei 2016

15:15 WIB

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s