Ishlah Vs. Istighna

         muhasabahPernahkah dan adakah diantara kita yang mengambil satu waktu tertentu di tempat tertentu untuk duduk berserah diri bermuhasabah diri dengan sepenuh hati? Jika pernah, apakah istiqomah? Setiap hari? 1 kali dalam seminggu? 2 kali dalam sebulan? Dan seterusnya…  Sungguh, hal ini amat berat dilakukan kecuali oleh orang-orang beriman yang memiliki orientasi hidup berkualitas di masa depan..

            MUHASABAH secara sedehana bisa dipahami sama dengan introspeksi diri dan evaluasi diri baik dan buruk, baik secara vertical (hubungannya langsung dengan Allah) maupun horizontal ( dengan sesame manusia), yaitu seseorang bertanya kepada dirinya sendiri tentang perbuatan yang dia lakukan agar jiwa menjadi tenang, dan memastikan secara gamblang apakah perbuatan yang dilakukan dalam kehidupannya sesuai dengan perintah-perintah Allah Ta’ala.

            Muhasabah  menjadi sarana untuk perbaikan, ishlah. Semangat memperbaiki diri untuk menjadi lebih baik melekat pada kepribadian seorang mukmin إن أريد إلا الإصلاح ما استطعت.  هود 88  (Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan) . Sebaliknya, janganlah kita bersikap istighna yaitu merasa dirinya sudah cukup sehingga tidak mau belajar, tidak mau dinasehati, tidak mau mendengarkan. Sekali lagi tidak boleh istighna merasa cukup dengan amalan kita, merasa tidak perlu bertaubat, tidak butuh ceramah dan nasehat.

             Salah satu kegiatan efektif adalah ‘mengasah gergaji’, termasuklah di dalamnya introspeksi diri dan evaluasi diri. Sesibuk apapun kita menggergaji, tetap saja kita harus berhenti sejenak untuk mengasah gergaji. Yang seperti ini, agama menyebutnya muhasabah. Sejatinya, apa yang telah kita lakukan adalah bekal perjalanan untuk hari esok. Lantas apa yang telah disiapkan sebagai bekal perjalanan tersebut?

            Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al-Hasyr: 18)

            Ini merupakan perintah agama, perintah untuk senantiasa bertakwa kepada-Nya, perintah untuk menghisab diri kita sebelum dihisab oleh Allah, juga perintah untuk melihat apa yang telah kita tabung untuk diri kita sendiri berupa amal shalih untuk hari kemudian dan pada saat bertemu dengan Rabb kita.

             Ibnu Qayyim pernah berpesan, “Muhasabah itu dilakukan sebelum dan setelah berbuat sesuatu.” Pesan Ibnu Qudamah pula, “Sudah semestinya orang beriman menyisihkan waktunya di pagi hari dan sore hari untuk bermuhasabah, berhitung sebagaimana para pedagang dengan rekan-rekannya menghitung keuntungan dan kerugian jual-beli mereka di setiap akhir penjualan.”

             Sahabat-sahabat terdekat Nabi Muhammad SAW, tak pernah menutup malamhya kecuali telah bermuhasabah. Bahkan seorang Abu Bakar yang sudah dijanjikan surpa pun, sangat keras menghisab dirinya. Tidaklah heran kalau Umar bin Khattab sampai berwasiat, “Hisablah diri kalian sebelum dihisab. Karena lebih mudah bagi kalian menghisab diri kalian hari ini, daripada hari esok. Dan siapkan diri menghadapi pertemuan terbesar itu.” حاسبوا أنفسكم قبل أن تحاسبوا، وزنوا أنفسكم قبل أن توزنوا وتأهّبوا للعرض الأكبر.

               Amat teramat tegas perintah muhasabah itu. Ada masa dimana seorang Muslim hendaknya menepi sejenak dari hiruk pikuk dunia dengan segala kesibukannya. Terlebih di bulan Ramadlan yang mulia ini, yang sudah begitu kondusifnya waktu dari mulai sahur , berbuka dan sahur kembali berada di dalam nuansa peribadatan yang penuh dengan ketundukan. Di titik sunyi itu, kita lalu bertanya kepada diri kita sebagaimana kita juga yang harus menjawab semua soal yang ditanyakan. Seberapa besarkah kadar iman kita? Seberapa banyak amal kita? Sudah ikhlash kah kita dalam beramal? Bagaimana hubungan kita dengan Allah? Hubungan kita dengan sesama manusia? Seberapa besar dosa kita?  Seberapa besar kah kebermanfaatan kita untuk orang lain? Sudah baik kah akhlak kita? Berapa banyak ilmu yang didapat? Dan seterusunya…

            Dan akhirnya, وما توفيقي إلاّ باالله Dan tidak ada Taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Serta senantiasa berdoa, ‘berikanlah ilham kepada kami, berikanlah taufik kepada kami, berikanlah rizki kepada kami, berikanlah anugerah kepada kami, teruslah Engkau bimbing kami di jalan yang lurus itu, dan jangan pernah Engkau simpangkan ke jalan yang lainnya. إهدنا الصراط المستقيم Adifaqot

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s