Mari bekerja!

Bekerja= self esteem

Assalamualaikum wr. wb.

Alhamdulilah, Puja syukur kita panjatkan kepada Allah Swt Tuhan Semesta Alam, Pencipta jagad raya beserta isinya yang telah memberikan nikmat berupa waktu supaya hamba mau bersyukur, beribadah kepada-Nya, mengharap, takut serta tawakkal kepada-Nya dalam menjalani hidup yang dinamis ini.

Shalawat serta salam bagi junjungan kita, penghulu para nabi, Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam, beserta segenap keluarga dan sahabatnya serta para pengikutnya yang setia hingga akir zaman.

Bekerja adalah gerakan universal, bumi berputar mengelilingi matahari selama kurang lebih 365 hari pada orbitnya, hal ini menunjukan bahwa bumi bergerak dan bekerja. Manusia yang hidup akan terus bergerak untuk bekerja dalam misi mendapatkan kebutuhan pokok atau menafkahi dirinya dan keluarganya. Ini merupakan fenomena alam yang pasti kita mengetahuinya. Manusia secara normal pasti mempunyai kebutuhan baik itu bersifat primer, skunder atau trenier. Dan pasti mereka harus mendapatkannya, untuk mendapatkannya mereka harus bekerja sehingga mendapatkannya. Ini sudah menjadi sunnah alam. Tapi selanjutnya, bagaimana nilai kerja mereka untuk mendapatkan penghasilan sehngga kebutuhan mereka terpenuhi? Apakah halal atau haram? Apakah sesuai perintah Allah Swt dan Rasul? Serta bagaimana menurut norma yang berlaku di masyarakat? Ini semua yang kadang-kadang saya renungkan ketika melihat langsung fenomena yang actual ini?

Mari kita simak ayat-ayat berikut ini:

  “.. Dan bekerjalah, Wahai Keluarga Daud, sebagai (ungkapan) syukur (kepada
Allah) (QS 34;14)

“Apabila Telah ditunaikan shalat, Maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan
carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.”( QS 62: 10)
 

“ Dan katakanlah, “Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin….” (At-Taubah : 105)

Secara jelas bekerja merupakan perintah Tuhan. Dan saya bisa katakan Islam itu adalah agama kerja.  Dari segi ibadah secara ritual saja hampir seluruhnya adalah gerakan, contoh  yang kongkret adalah shalat. Shalat adalah ibadah yang sangat sentral dan teragung dalam Islam, bahkan menjadi batas keimanan seseorang atau tidak. Kalau kita amati, shalat dari awal sampai dengan akhir, disertai dengan gerakan seluruh tubuh kita. Shalat berkait dengan kerja

,Shalat didasari dengan wudlu (penyucian diri), diawali dengan takbir (pengagungan kepada Allah), dan diakhiri dengan salam ke kanan dan kekiri. Salam adalah menyebarkan kedamaian, kesejahteraan dan keselamatan. Pesannya sangat jelas! Kegiatan ibadah shalat berupa ibadah penyucian diri, dan mengagungkan Allah, harus dibuktikan dengan menyebarkan kedamaian, kesejahteraan dan keselamatan kepada lingkungan. Dan itu –tidak bisa tidak- dilakukan dengan kerja, action.

Ibadah adalah penghambaan kepada Allah Swt, Namun alangkah baiknya kita harus memiliki implikasi sosial dan implikasi kerja dari ibadah kita. Yang mana kualitas kerja kita adalah manifestasi dari iman dan ibadah kita serta kerja adalah pesan moral dan tindak lanjut dari ibadah ritual. Semua yang kita kerjakan bernilai pahala disisi Allah Swt, serta bermanfaat bagi diri kita, keluarga, saudara, masyarakat dan makhluk lain sehingga hasil dari amal,kerja kita bermanfaat (amal shalih), dan ini yang didefinisikan oleh Imam Al-Ghozali dengan Amal Shalih.   

Namun apabila kita menyimak sekilas di dunia nyata bahwa masih banyak yang bekerja tanpa memandang nilai atau norma dari ajaran islam dari bentuk kerja mereka, kita pasti sering melihat orang yang bekerja lantas dengan watados (wajah tanpa dosa) meninggalkan kewajibannya mendirikan shalat lima waktu, ataupun dengan mengemis meminta-minta belas kasihan orang, bahkan ironisnya sampai menjual harga diri (self esteem) dengan merubah diri menjadi bencong sebagai profesi. Yang jelas islam sangat menjaga ‘izzun nafsi bagi orang mukmin.

Begitu pilu ketika penulis melihat seorang ibu dan anaknya harus mengamen untuk mencari nafkah, yang mana ibu merebut hak anaknya yang masih kecil yang seharusnya berada dalam suasana ceria bermain dengan anak-anak yang lain, harus sudah membantu ibunya berjalan mencari uang. Ironis! Ini tak seberapa jika dibandingkan dengan pengamen bencong yang dengan senang hati menjual kehormatan dirinya.

Padahal Allah Swt menciptakan manusia sebagai makhluk yang mulia dan berharga di muka bumi, namun tidak sedikit mereka sendirilah yang menghancurkan harga diri dan martabatnya, baik dengan perbuatan amoral diluar norma-norma agama dan lain sebagainya. Bahkan, Islam memberikan tuntunan, kalaupun harus dengan mengeluarkan harta demi menjaga kehormatan atau harga diri, hal itu boleh untuk dilakukan. Sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi:
ذُبُّوا عَنْ اَعْرَاضِِكُمْ بِأَمْوَالِكُمْ
“Peliharalah untuk menjaga diri kamu dengan harta kamu” (HR. Ad-Dailami)

Karena itu, dalam prespektif Islam, harga diri itu lebih berharga dan mulia dari pada harta benda. Namun yang terlihat sekarang, terkadang manusia rela menjatuhkan harga dirinya demi memperoleh keuntungan harta benda.

                   Padahal Rasululah SAW sangat menghimbau supaya orang-orang mencari mata pencaharian agar terhindar dari meminta-minta, bahkan Nabi-nabi sebelum beliau bekerja sambil berdakwah. Abû Hurairah radhiallâhu ta‘âlâ ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasûlullâhshallallâhu ‘alaihi wa sallam berkata, “Barang siapa mencari matapencaharian yang halal di dunia untuk menghindarkan diri dari meminta-minta(mengemis), untuk mencukupi kebutuhan keluarganya dan untuk berbuat baikterhadap tetangganya, Allâh akan membangkitkannya di hari Kiamat denganwajah seperti bulan purnama. Barang siapa mencari mata pencaharian yanghalal di dunia untuk berbanyak-banyak, berbangga-bangga dan berpamrih(pamer), ia akan menemui Allâh di hari Kiamat sedang Ia murka kepadanya. [Abû Nu‘aim meriwayatkan dengan matan hampir sama]. Kemudian diceritakan dari Aisyah r.a: ” ‘Aisyah berkata,“Nabi Sulaimân bin Dâwûd ‘alaihimas salâm konon menceramahi masyarakat diatas mimbar sambil menganyam daun kurma. Setelah selesai, ia menyuruh seseorang untuk menjualnya.”
               Suatu ketika, Rasulullah mencium tangan kasar seseorang karena bekerja keras sebagai pemecah batu dan beliau memujinya bahwa tangan itu dicintai Allah. Subhanallah! …..

               Selebihnya Islam sangat menjunjung tinggi nilai kerja, amal nyata atau action yang bermanfaat bagi semuanya, apalagi apabila bekerja dijadikan motivasi sebagai pengabdian kepada Allah swt, Bekerja dalam ajaran Islam adalah manifestasi dari iman. Bekerja adalah sebagai bagian dari ibadah. Sedang bagi umat yang lain, mungkin hanya sekedar mengisi waktu, mengejar harta, dll. Berikut petikan puisi Khalil Gibran dalam sang Nabi yang menggambarkan tentang bekerja:

 

Kau bekerja, supaya langkahmu seiring irama bumi
Serta perjalanan roh jagad ini
Berpangku tangan menjadikanmu orang asing bagi musim,
Serta keluar dari kehidupan itu sendiri
Yang menderap perkasa, megah dalam ketaatannya
Menuju keabadian masa
           

           Selayaknya kita harus tahu value dari bekerja yang hakiki sebagai pengabdian kepada Allah Swt, mungkin ciri-ciri ini bisa kita ambil:
1. Motivasi kerja : Niat ikhlash untuk pengabdian kepada atau mencari ridha Allah SWT
2. Cara kerja : sesuai/tidak bertentangan dengan syariat Islam
3. Bidang kerja : yang halal, baik/ma’ruf
4. Manfaat kerja : kebaikan, kesejahteraan, keselamatan bagi semua (rahmatan lil alamin)

5. Hasil kerja : Bersyukur atas pemberian Allah Swt
 

         Dengan bekerja sebagai motivasi ibadah, semestinya selalu memberikan yang
terbaik. Selalu bekerja semaksimal mungkin, bukan seadanya. Itulah yang disebut sebagai “ihsan” (berbuat baik) atau “itqan”(hasil terbaik). Allah bahkan memerintahkan kita meniru karya Allah dalam bekerja, “… maka berbuat baiklah (fa ahsin) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu”(QS 28:77)
 

        Subhanallah, apabila kita mengetahui nilai kerja dalam islam, betapa kita akan merasakan begitu agung ajaran islam. Menuntun segenap manusia untuk mendapatkan karunia-Nya.

 

 

 

Wassalamualaikum wr. wb

 

.

 

 

 

 

 

                                                                                                            Yogyakarta, 07 januari 2012

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s